Catatan Soal (nasib) Dosen di Malaysia dan Indonesia
October 15, 2010 33 Comments
Tak disangka tak dinyana, dalam konferensi internasional sebumi di UKM, aku bertemu kawan lama sesama bekas aktivis mahasiswa di UI. Nangkula dulu wakil ketua BEM UI dan aku Ketua Senat FISIP UI. Kini ia mengajar di Program Studi Arsitektur di UKM. Ia sempat mengajar di UI sebagai dosen BHMN, namun memilih untuk berkarir di Malaysia, sempat mengajar di berbagai perguruan tinggi sebelum akhirnya memilih di UKM. Perbincangan hangat dengan TKI intelektual kita ini menimbulkan berbagai perenungan yang cukup dalam yang tanpa sadar membandingkan bagaimana kehidupan dosen di Indonesia dan Malaysia.
Tulisan ini tak bermaksud mengeluh. Namun memberi informasi yang serba terbatas dari perbincangan dengan kawan lama, yang semoga saja menginspirasi siapapun yang menjadi pemimpin negeri ini agar lebih serius mengurusi kehidupan kaum intelektual. Tulisan semacam ini (soal kesejahteraan peneliti indonesia) setidaknya pernah dua kali dimuat di Kompas dengan penulis Ikrar Nusa Bakti dan Asvi Varman Adman.
Oh ya, sebelum lanjut membaca ditegaskan, biaya hidup di malaysia dan Indonesia tidak jauh berbeda, nasi campur ikan disini sekitar sepuluh ribu rupiah.
Perbandingan
Gaji seorang dosen paling junior (Master) sebesar sekitar lima belas juta rupiah dengan biaya hidup tak berbeda jauh dengan Jakarta. Dosen senior (bergelar doktor tapi belum profesor) tentu saja lebih besar, sekitar dua puluh juta rupiah. Itu baru gaji pokok, belum pendapatan dari grant-grant penelitian.
Seorang dosen di UKM mendapatkan grant penelitian tiga sampai empat setiap tahunnya. Paling sedikit 45 juta rupiah dan sekitar 150 juta rupiah setiap grant. Grant itu digunakan untuk proses penelitian dan mengikuti konferensi di berbagai belahan dunia tanpa takut kehabisan dana. Maka, Nangkula dengan semangat menceritakan bahwa dalam setahun ini saja ia bisa berseminar di berbagai negara di Asia Timur, Eropa atau sesekali di Indonesia.
Selain itu dana grant tersebut juga dipakai untuk membeli buku-buku terbaru yang dipakai untuk penelitian tersebut. Seorang dosen dalam melakukan penelitian dibantu oleh Graduate Research Assistant (GRA). GRA mendapatkan gaji dari dana grant tersebut. Seorang GRA bergelar bachelor akan mendapat sekitar tiga sampai lima juta rupiah. Sedangkan GRA bergelar master akan mendapatkan lima sampai enam juta rupiah.
Nah, banyak mahasiswa Ph.D inilah yang menjadi GRA, membayar biaya kuliah dan membiayai hidupnya dari sumber ini. Abdul Aziz, Dosen Metalurgi Untirta sekarang menjadi GRA dan mahasiswa Ph.D di program studi metalurgi di UKM.
Namun seorang dosen juga dinilai berdasarkan Key Performance Indicator (KPI), berapa kali menulis jurnal, berapa kali membentangkan paper dalam seminar internasional, atau berapa mahasiswa yang dibimbing. KPI ini yang menjadi dasar dalam kenaikan gaji setiap tahun dan juga kenaikan karir (misal dari Dosen Senior menjadi Professor Madya).
Bukan bermaksud mengeluh atau membandingkan. Dosen dan peneliti di Indonesia harus betul-betul membanting tulang untuk sekedar hidup. Berlebihan? Rasanya tidak. Seorang dosen junior bergelar master hanya memiliki pendapatan sekitar dua juta rupiah. Dosen senior bergelar Doktor hanya bisa membawa pulang uang sekitar tiga juta rupiah setiap bulannya. Jika sudah disertifikasi mungkin bisa mendapatkan empat sampai lima juta rupiah. Proses sertifikasi berlangsung amat sangat lambat dan berdasarkan Daftar Urutan Kepangkatan (DUK) alias urut kacang. Keamanan finansial rasanya baru bisa didapatkan jika sudah mendapatkan jabatan fungsional Professor, yaitu sekitar 13 juta rupiah. Itupun pembayarannya dilaporkan berlangsung tersendat-sendat.
Jangan heran istilah dosen mengasong atau mengamen masih menjadi hal yang lazim di Indonesia, di kampus manapun. Amat biasa seorang dosen mengajar di dua, tiga atau empat universitas untuk sekedar bertahan hidup.
Dana-dana penelitian memang mulai digulirkan oleh Dirjen Dikti. Namun banyak persoalan teknis yang masih menghantui terutama dalam penyelenggaraannya di berbagai perguruan tinggi. Di kampus tertentu ada Pemotongan dana penelitian oleh oknum tertentu secara semena-mena dan tidak senonoh dilaporkan terjadi. Jumlahnya juga masih jauh untuk bisa bersaing dengan kolega-kolega di Malaysia.
Kelebihan lain adalah adalah berlimpahnya infrastruktur, terutama referensi baik buku maupun jurnal serta dana-dana penelitian. Tak ada hambatan menemukan buku dan jurnal terbaru di perpustakaan. Selain itu pihak kampus melanggan jurnal terbaru via internet sehingga literature lama dan baru bisa diakses dengan mudah.
Maka jangan heran jika kemudian terjadi fenomena brain dain. Orang-orang terbaik Indonesia sebagai warga dunia memilih tempat yang bisa memberikan kehidupan lebih baik dan mengembangkan diri lebih baik, dimanapun itu. Apakah kawan semacam itu lantas kita bilang tidak nasionalis?
Jika kondisi semacam ini terus terjadi, nampaknya bisa diramalkan (mama luren mode:on), Indonesia memang akan semakin tertinggal.
Bagaimana menurut anda?



absolutely agree Pak.
saya awalnya kaget ternyata gaji dosen di Indonesia besar juga ya (saya membandingkan dengan gaji guru *in case ayah saya adalah guru*) tapi ketika mengetahui dosen di Malaysia lebih “sejahtera” saya lebih kaget. haha
okey Pak, Indonesia bukan cuma butuh satu orang baik ya? (mengutip perkataan Bapak di kelas) tapi butuh banyak untuk “merubah” Indonesia.
semoga akan ada banyak orang-orang baik yang lahir (termasuk saya) hehe ;D. amiin
gaji dosen di indonesia besar? he he. gaji dosen ui lebih kecil dari guru SD di jakarta yang mendapat TKD. saya bilang, titik aman finansial seorang dosen adalah ketika ia mampu mengejar jabatan fungsional profesor. itupun pembayarannya tersendat.
Besar gimana, 14 tahun mengabdi jadi dosen gaji 2 juta kalah dengan guru SD, Tentara berpangkat prada(Gol Ia), apalagi departemen lain.
kalo soal gaji, emang sih itu negara kerajaan malaysia bisa menang dan tarikin orang2 indon jadi dosen di situ. tapi pigimana soal kebebasan akademik? apa seorang dosen bisa nulis kolom, artikel, buku yang isinya ulasan kritis peraturan ini-itu, sistem sosial-politik, en juga pemerintahan itu kerajaan? ini pula yang jadi dasar bagi banyak tki-intelektual untuk hanya ngetem di kerajaan itu, ato paling2 menjadiken 4-5 taon di situ sbg “pengalaman” yang notabene untuk bikin panjang cv – dan hampir ndak ada yang punya niat untuk menetap. para penghuni menara gading di malaysia itu jarang kali bikin perubahan bagi masyarakat – sampe2 udeh impoten, dan tugas utama dalam mendidik masyarakat malah diambil oleh para pembuat pilem. ini bukan suara keraguan atas mutu penelitian di malaysia, melainkan cuman preferensi logis: daripada buang2 waktu baca buku terbitan malaysia, mending nonton pilem bikinan amir muhammad, yasmine ahmad (alm.), dll.
Saya percaya kebebasan akademik amat penting, tapi saya juga percaya bahwa gaji yang baik juga tak kalah penting. Daripada berwacana soal nasionalisme, brain drain, dsb, pemerintah harusnya mulai serius memikirkan kesejahteraan dosen (dan juga peneliti).
Sebagai perbandingan, gaji gayus PNS 3A sudah 12 juta rupiah, gaji professor yang merupakan puncak karir seorang dosen hanya 13 juta rupiah. So, cita-cita puncak karir dosen di Indonesia (baca: Professor) = pns golongan 3A di depkeu. kumaha bos?
loh, dirjen pajak kan bagian dari depkeu, yang di jaman sri mulyani ada perombakan besar2an en pemberian paket gaji spesial (alias, sengaja digedhe-in). alasannya: biar birokrasi menjadi lebih efisien, en ngak korup lagi. kalo sekarang sih, ya laen ceritanye! jadi, gaji gayus yang gedhe itu emang khusus untuk ambtenar2 depkeu aja.
soal gaji dosen, ya ini dimana2 loh dosen emang cuman terima seemprit dibanding CEO, dubes, dll. pasalnya, kepuasan dosen adalah mengajar en melakukan penelitian, bukan komersil. oki, gaji yang seemprit itu dikompensasi dgn adanya dana2 penelitian. parahnya di negeri indon tercintrong, status dosen dijadiken macem2 untuk nyambi politik, bisnis, dll.
gaji dosen di negeri serumpun kerajaan itu emang cukup luar-biasa, pasalnya ingin tarikin orang2 asing – ini trik yang dicontek dari singapura-pura itu.
sdr ku A. Hamid kena sabar dengan dosen di Indonesia… saya di tawar jd dosen di UKM tak saya ambil…. saya mau ngajar di Indonesia… oh ya… di UKM udah ditumbuhkan Pusat kajian Indonesia-malaysia… yang kita lemparkan ide waktu sesi forum di sebumi tempo hari, nah teman-teman dosen di Indonesia bisa joint kajian dengan teman-teman dosen di UKM. saya sekarang lagi mau menggarap penelitian itu “Pola Komunikasi dalam menyelesaikan masalah TKI” peneliti Dr. Mus chairil Samani (UKM), Dr. Erman Anom (Univ. Esa Unggul, Dr. Indrawadi Tamin (Univ. Esa Unggul).
Dr. Erman Anom
he he sabar ya pak? ok deh, lakukan yang kita bisa memang. jika ada penelitian yang saya bisa bantu (saya belajarnya politik pak) bisa kontak di doelha@yahoo.com atau 0818142352. Suwun Pak
Wow, I don’t know what to say, but this article very inspiring, I hope our ‘you-know-who’ will have new resolution for our lovely country,
my greet for one Indonesia…
kind regards,
AM.2011
yang paling berkesan bagi saya bukan urusan gaji saja, mau melamar jadi dosen pun dibuat rumit, pelik dan kadang malah dihina (itu terjadi di PTN dan PTS kita); yah mungkin saatnya belajar ke negara jiran itu
aDuh ………………
negara indonesia ku.
padahal indonesia ini negara terbesar,,,,,, diasia…
dan merupakn paru- paru dunia,,
sekarang tergantung sistem pemerintah qta,
harus dganti dan dirubah ,,
Hidup dimanapun sama, yg penting pengabdian kepada Tuhan dan berguna bagi sesama manusia. Kalo jadi Dosen di Indonesia hanya dibuat merana dg gaji yg kecil sehingga terkadang jadi tukang ojek(beneran) hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menyekolahkan anak yg biayanya selangit, sehingga tidak bisa menjalankan kewajibanya sebagai dosen dengan benar malah menjadi sumber masalah. Mengapa tidak pindah ke negeri yg lebih baik dalam memperlakukan kita sehingga bisa menyumbangkan karya terbaiknya. Soal Nasionalisme, nasionalisme adalah membela “bumi dipijak langit dijunjung”(renungkan) dimana kita berada disitu harus kita bela. Orang Cina yg sudah menjadi warga Indonesia seharusnya punya rasa nasionalisme terhadap Indonesia, demikian juga orang Indonesia yg sudah menjadi warga Malaysia seharusnya punya rasa Naionalisme terhadap Malaysia.
Indonesia akan terus tertinggal kalau pemerintahannya dihuni oleh orang-orang yang seperti sekarang ini. Memang secara khusus/pribadi mereka tidak memiliki keahlian, tidak jujur dan juga korupsi. Tetapi sebab utama dosen atau peneliti ataupun orang-orang jenius lainnya tidak akan bisa mendapatkan ksejahateraan yang layak karena mereka tidak didukung oleh Pemerintah Indonesia, soalnya yang duduk di pemerintahan sekarang ini ataupun yang dulu-dulu, bisanya cuma sirik (baca: iri hati) pada kelompok intelektual dan nggak bisa menerima kenyataan mereka (kaum intelelktual) itu lebih cerdas dari orang-orang pemerintahan Indonesia selain itu juga tidak mensupport dana bagi suatu Research atau penelitian karena tidak ada keyakinan dan karena faktor iri hati itu juga, jadi wajar jika Indonesia tidak bisa menjadi negara yang maju, dan kaum intelektualnya lebih memilih tinggal dan bekerja di negara asing dan mendapatkan kesejahteraan selayaknya dan membuat negara itu menjadi semakin maju….*Maaf jika bahasanya terkesan serius*………………
bukan rahasia lagi jika dosen-dosen di malaysia lebih sejahtera dibandingkan di Indonesia. kalau masalah kebebasan akademis, sama aja di Indonesia dengan di Malaysia. pengalaman teman ibu saya yg juga seorang dosen di malaysia gajinya bersihnya 50 juta per bulan belum termasuk tunjangan atau grant ini-itu. teman ibu saya ini jadi dosen di Indoneia dan malaysia.
saya pikir orang di Indonesia gak perlu mengingkari kenyataan hanya karena alasan nasionalisme membela bangsa menolak kenyataan bahwa dosen di malaysia jauh lebih makmur dibandingkan di Indonesia
jika anda memang orang Indonesia yg fanatik dengan nasionalisme, saya sarankan jangan bicara nasionalisme omong kosong. nasionalisme cuma di atas kertas. nasionalisme dalam wacana saja. pakai bukti dari segi pembangunan juga. nasionalisme tanpa pembangunan dan kemajuan DI MASYARAKAT hanya NASIONALISME OMONG KOSONG. yg saya cemaskan justru nasionalisme menjadi faktor utama kemunduran bangsa ( contohnya : nasionalisme hanya menjadi alat menekan orang, nasionalisme membuat rakyat indonesia semakin terisolasi dari kemajuan global).
saya bahkan punya rencana mengambil lowongan kerja dosen di malaysia lagi. dengan pendapatan finansial dan kemakmuran yg lebih akan menyediakan kebebasan akademis lebih tinggi. gak perlu lagi jadi dosen rangkap-rangkap kayak di Indonesia.
jangan pernah coba menjual namamU di ziran tuh,
karena negara sangat membutuhkan pengajaran yang lebih efisien, dan efektif,.
walaupun negara qta ini tidak begitu banyak menjanjikan pendapatan atau gaji.
kita harus tetap semangat , mendidik atau mengajar kan yang terbaik pada negara indonesia, karena negara kita ini krisis pendidikan dan pengangguran begitu banyak , bahkan ada lagi . dia bersekolah sampai s2, tidak ada pekerjaaan, dan di pengangguran..
jedi harusklah kita syukurin……..
Tomo, semangat sekali. memang, sekarang era menjadi warga global, selamat membangun kapasitas dan berbakti dimanapun anda dihargai secara layak.
bukan semangat tapi jengkel sama pemerintah kita yg senengnya menekan dunia pendidikan kita
Ehm…memang, sangat memprihatinkan negeri kita tercinta ini…
Saya bercita2 menjadi dosen peneliti di Malaysia selama beberapa tahun dan mempelajari ekonomi islam di sana (yg sudah lebih maju dibanding Indonesia)..utk kemudian kembali ke negeri Indonesia tercinta dan membangun peradaban ekonomi Islam yg nyata.
agak muluk, tapi semoga Alloh memudahkan. Amin
gini aj yg memilih mngabdikan semua ilmunya untuk lur negeri dan mengesampingkan Indonesia..suruh milih kwarganegaraannya…biar mereka puas
Kenapa ya orang Indonesia yang pintar & ditawari ngajar di Malaysia mesti DICACI-MAKI.
Kenapa bukan maki-maki koruptor yang ngembat APBN, yang dipakai beli apartemen mewah di Singapura. Kenapa bukan maki-maki anaknya koruptor yang pada turun ke jalan pamer mobil impor ex showroom.
Saya sendiri calon doktor, tapi saya baru tahu dari rekan saya sesama dosen (di Jakarta) bahwa pendapatan doktor di Indonesia segitu kecilnya.
Setelah belajar, menuntut ilmu lama-lama dan mahal-mahal, sebagai muslim, di mana saya mau mengamalkan semua yang saya pelajari? Ngajar itu pekerjaan halal. Saya di Jerman, di Australia, di Rusia mendapat penghormatan yang pantas. Omongan kita didengar, pendapat ilmiah kita disegani. Di tanah air, dari presiden sampai lurah nggak ada yang peduli. Lu mau doktor kek, santri Gontor kek…urus diri masing-masing…BBM naik kek, listrik mahal kek, EGP…
banyak yg masih jauh dari kesejahteraan ya ternyata dosen2 kita di indonesia :p
padahal biaya kuliah masih muahal
ya.. sob bener banget. Pak dosen yang semangat !
Sdr. Dimas, tulisan anda memang sudah lama diposting tapi ada baiknya saya turut mencermati pula. Mungkin konteks -nya jauh berbeda lantaran tulisan ini membandingkan kesejahteraan dosen di Indonesia versus kesejahteraan dosen di Malaysia. Alangkah baiknya jika saya memberikan gambaran kesejahteraan dosen di Amerika Serikat, yang notabene adalah negara barometer pendidikan tinggi dan litbang.
Alhamdulillah saya baru mendapatkan gelar doktor saya dibidang manajemen sistem informasi dari sebuah universitas negeri di Paman Sam sini. Menurut rekan sesama dosen, jika saya pulang dan mengabdi untuk akademia di Indonesia, maka saya akan menjadi pakar untuk bidang yang minoritas. Maksudnya justru sangat dibutuhkan lantaran di Indonesia kebanyakan adalah pakar IT atau pakar computer science. Akan tetapi saya justru menerima pinangan kontrak dari sebuah research university besar dinegeri Paman Sam ini dengan gaji yang bahkan jauh melebihi gaji dosen di Malaysia plus tunjangan kesehatan (kontrak ini untuk setahun saja). Saya pun mendapatkan biaya akomodasi US$1500 untuk konferensi dan seminar (ini hanya posisi kontrak setahun saja lho). Universitas tersebut menjanjikan akan menaikkan gaji saya dan memberikan tunjangan2x lainnya tahun depan jika saya ditawarkan posisi dosen reguler.
Pembaca yang budiman, dosen di Amerika Serikat hidup dalam dunia -nya sendiri (alias ivory tower) dimana kebebasan berekspresi dan berakademik sangat dijamin oleh negara dan gaji -nya mendekati gaji CEO sebuah perusahaan kecil. Setiap lulusan doktor yang akan berkarir sebagai dosen reguler (atau dosen inti jika meminjam istilah di UI) menerima gaji kotor antara US$ 60000-US$ 110000 per tahun akademik/9 bulan (alias Rp. 60 juta – Rp. 110 juta per bulan). Gaji ini memang belum dipotong pajak penghasilan. Selain daripada itu, seorang dosen junior memperoleh tunjangan kesehatan komprehensif, termasuk untuk mata dan gigi, plus akomodasi travel yang tentu -nya jauh diatas US$ 1500 yang saya terima. Setiap summer, dosen mendapatkan research grant selama 3 bulan (saya kurang tau kisaran pastinya). Sebuah angka yang sangat fantastis! Tentu anda akan berargumen bahwa biaya hidup di Paman Sam sangat tinggi, tapi tentu kesejahteraan tersebut akan imbas jika anda menjadi dosen di New York City. Tapi bagaimana jika menjadi dosen di kota kecil seperti misalnya di kota Tupelo (state Mississippi)? Biaya hidup -nya tentu sangat jauh lebih kecil daripada biaya hidup di New York City akan tetapi gaji dosen plus tunjangannya tetap sama. Dan angka yang saya berikan tersebut adalah angka bagi dosen junior seperti saya (gaji saya belum segitu tentunya karena posisi saya ini kontrak setahun).
Dosen junior di Amerika Serikat biasanya berada dalam masa probation selama 5 tahun. Sistem ini disebut dengan nama sistem tenure-track. Selama 5 tahun ini, sang dosen diwajibkan menjalankan tugas penelitian dan publikasi ke journal papan atas, tugas mengajar dan mendapatkan evaluasi mengajar yang memuaskan dari mahasiswa, dan tugas pelayanan akademik (tridharma perguruan tinggi). Jika sang dosen bekerja di research university macam Harvard University, Purdue University, UCLA, atau MIT, maka beban penelitian -nya sangat berat dibandingkan tugas lainnya (research:teaching:service = 6:3:1). Tapi jika sang dosen bekerja di teaching university (biasanya universitas kecil macam California State University at Fresno), maka beban mengajar lebih ditekankan (research:teaching:service = 3:6:1). Gaji dosen junior di teaching university pun lebih kecil, dengan gaji awal antara US$ 60000-US$ 75000 per 9 bulan (berarti Rp. 60 juta – Rp. 75 juta per bulan). Dimasa-masa ini, sang dosen disebut sebagai Assistant Professor. Jika sang dosen lolos masa probation tersebut maka pangkat beliau naik menjadi Associate Professor, dengan gaji dan tunjangan yang tentunya lebih baik. Gaji seorang Associate Professor berkisar antara US$ 130000- US$155000 per 9 bulan (alias Rp. 130 juta-Rp. 150 juta per bulan). Jika sang dosen mendapat gelar Associate Professor, maka beliau disebut sudah tenured dan memiliki kebebasan akademik penuh dan job security yang pasti. Tidak ada satu alasan apapun yang bisa membuat dosen tersebut dipecat dari university tempat beliau berkarir kecuali beliau berlaku asusila. Jika akhirnya sang dosen dianggap pantas menjadi seorang Professor, maka gaji -nya menjadi US$ 170000-US$ 210000 (alias Rp. 170 juta-Rp. 210 juta). WOW!!! Gaji yang mendekati gaji seorang CEO diperusahaan skala kecil! Sistem pangkat tenure-track dan renumerasi + tunjangan a la negeri Paman Sam ini banyak dicontoh dan diadopsi oleh negara2x Asia Timur yang sudah maju macam Singapura dan Hong Kong. Konon gaji dosen di National University of Singapore dan di University of Hong Kong juga tidak kalah bombastis dan bahkan kesejahteraannya cenderung lebih baik. Dosen di Hong Kong dibelikan apartment oleh university tempat beliau berkarir. Silahkan anda intip di http://www.glassdoor.com dan masukan nama perguruan tinggi asing yang anda minati. Terakhir saya lihat gaji Assistant Professor (alias dosen junior) di National University of Singapore menurut glassdoor.com adalah antara SG $82000-SG $108000 per 9 bulan, alias Rp. 69 juta-Rp. 91 juta per bulan.
Nah pembaca yang budiman, karir dosen itu lebih dari sekedar pengabdian. Karir dosen adalah sebuah profesi. Dosen juga seorang manusia yang memiliki keluarga dan harus memikirkan makanan, pendidikan, dan kesejahteraan anak-anak -nya. saya mengutip pernyataan Tomo, jika nasionalisme hanyalah omong kosong yang malah bisa dijadikan alat untuk menekan orang. Kita sudah lihat apa yang terjadi dengan, ambil contoh, mantan menteri keuangan kita yang juga seorang doktor, tapi diperalat secara politik. Kiprahnya besar di negeri Paman Sam ini, beliau konon adalah pucuk kepemimpinan kedua di institusi finansial kelas dunia tersebut. Saya pribadi memandang diri saya sebagai “a citizen of the world,” alias dibelahan bumi manapun yang saya pijak adalah ciptaan Tuhan. Adalah tugas dan kewajiban saya sebagai khalifah untuk mengabdi kepada Tuhan dimanapun saya berada tanpa dibatasi oleh sebuah kebangsaan.
Mohon maaf atas pernyataan dan tulisan saya, tapi ini hanyalah sekedar opini (selain dari fakta kesejahteraan dosen dinegeri Paman Sam tentu -nya).
membandingkan dosen di indonesia dengan di malaysia adalah sesuatu yang sangat TEPAT DAN WAJAR.
kerana kedua negara adalah RUMPUN MELAYU dan negara ISLAM. menggunakan BAHASA YANG SAMA.. tapi yang satu memberikan kesahteraan kepada dosennya (malaysia), dan yang satu lagi ( indonesia) membiarkan dosennya MATI DAN TANAM SENDIRI..
Rumpun melayu? orang ambon, papua, sunda, apa kagak marah dibilang “melayu”? apa djangan2 mereka mesti djadi “melayu” utk bisa dapet KTP? Omong2, apa jang dimaksud dgn “melayu” selain identitas politik belaka?
Negara islam? ini NKRi – negara kesatuan republik indonesia. NKRi harga mati. Ada tertulis di mana NKRi itu negara islam?
Kalok mao sedjahtera, ja silahken migrasi adja ke KL. Ngak usah mati sia2 di NKRi.
Saya barusan lulus S3 dari salah satu kampus besar Jepang dengan beasiswa yang bukan berasal dari APBN. Sebelum berangkat S3, saya dosen honorer di salah satu PTN, selesai S3 saya diminta kembali. Dengan itikad baik saya kembali untuk mengabdi di Indonesia. Yang sungguh membuat saya kecewa adalah jurusan dimana tempat saya bekerja sebagai dosen honorer tidak mau mengajukan formasi S3/IIIC, mereka hanya membuka formasi S2/IIIB. Yang artinya kalau saya masuk formasi IIIB/S2 saya harus menunggu 3-4 tahun untuk ke IIIC/Lektor. Dan pada saat pengajuan Lektor nanti saya bisa memasukkan ijasah S3 namun kum atau pointnya di “nol” kan karena ijasah S3 tertanggal sebelum SK Pengangkatan. Dengan kata lain ijasah S3 saya tidak ada harganya. Saya kembali ke Indonesia setelah lulus S3 sudah berkorban dengan “menolak” tawaran Professor saya untuk postdoc yang secara jelas penerimaan bulanan 40 jutaan. Saya tidak mempersoalkan point/kum 50 dari ijasah S3, yang saya persoalkan adalah saya telah membuang waktu sia-sia selama S3. Teman seangkatan honorer saya yang menjadi PNS pada saat saya S3 sekarang sudah mengajukan lektor tanpa harus susah payah S3, lha masak dengan ijasah S3 saya harus mulai IIIB / Asisten ahli. Terus terang saya dalam proses pindah bekerja keluar negeri dan ini bukan berarti saya tidak cinta Indonesia……tapi kondisi yang memaksa saya memilih bekerja diluar negeri
Mas BWinarta yang baik, boleh sumbang saran gak? lebih baik bertahan saja di Indonesia, dan kejar guru besar secepat mungkin. Saya yakin dalam tempo kurang dari 10 tahun sampeyan sudah bisa jadi Guru besar. Existing condition memang menyedihkan, namun trend-nya penghargaan terhadap dosen berkualitas akan semakin baik dan dunia perdosenan di Indonesia semakin kompetitif lho. Sudah baca draft permendikbud tentang jabatan fungsional dosen? disana misalnya dituliskan bahwa kalau untuk jadi lektor mesti punya tulisan di jurnal terakreditasi, untuk naik ke lektor kepala mesti punya tulisan di jurnal internasional. Saya yakin tak banyak yang bisa melalui-nya, dan diantara sedikit yang bisa melaluinya ya Mas BWinarta itu. Apalagi golongan IIID sudah bisa mengajukan ke Guru besar lho. Kalau patah arang, ada baiknya searching profil dosen-dosen yang mendapatkan fungsional guru besar di usia muda seperti mas Eko Prasodjo yang sekarang jadi Wakil MenPan. Salam. btw saya sedang di jepang, baru mulai D1
Cengeng semua ah anda-anda….Mengecewakan !
Punya gelar doktor tapi tidak kreatif hanya bisa berpangku tangan menunggu fasilitas pemerintah. Dosen dan akademisi itu dimana-mana memang gajinya kecil, di luar negeri juga tidak mudah anda menjadi tenured professor, paling banter juga dikasih meja kecil di pojokan jadi postdoc atau temporary research assistant etc… jgn bangga deh. jadi bahan ledekan anak2 bachelor dan master, That poor little old PhD in the corner… alias postdoc…
Makanya kreatif ! saya dari dulu sebelum PhD juga sudah tahu kerja di academia gajinya kecil, makanya ilmu yang saya pelajari ketika PhD itu saya terapkan saja dengan menjadi konsultan dan manager di bidang saya. Seharusnya PhD itu memiliki power otak dua kali lipat orang biasa, saya lulus PhD pulang ke Indonesia, tidak hanya terlena dalam akademia tapi dalam waktu singkat mempelajari finance, ekonomi, manajemen, hukum,business process, Supply Chain management,, proses manufaktur dan langsung bisa menguasai konsepnya jauh lebih baik daripada praktisi yang berpuluh-puluh tahun disitu sehingga saya langsung jadi senior manager di perusahaan besar dan juga konsultan. Income berpuluh kali lipat dosen. Saya dosen hanya part time saja, bagi-bagi ilmu dan pengalaman saja, tidak mengharapkan gaji.
Sekali lagi, bagi para PhD, your brain power is your strength !!!
Use that, dan stop complaining. Jangan pernah bergantung sama orang lain, apalagi pemerintah !!
Dear mas Adi yang keren, selamat ya sudah jadi Ph.D dan manager senior di perusahaan besar. Nah, jika andaikan semua Ph.D yang baru lulus dan berstatus dosen tetap di PTN/PTS di Indonesia mengambil langkah seperti Mas Adi lakukan kira-kira bagaimana nasib kampus, mahasiswa atau lebih besar lagi, pendidikan tinggi di Indonesia? Bubar-jalan kan? Semuanya memilih jadi konsultan dan ngajar sekedar jadi hobby, he he. Banyak juga kawan saya yang cukup kreatif seperti Mas Adi, misalnya menjadi dosen terbang di Malaysia sambil sesekali mengajar di kampus asalnya. Motivasi-nya ya uang, tapi mahasiswa bimbingan nasibnya bagaimana? penelitiannya kapan? Saya sendiri melihat jika memang dunia pendidikan tinggi di Indonesia mau kuat, perbaikan fasilitas (lab, library, dll) serta peningkatan kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan adalah hal yang tidak bisa ditawar. Biar orang-orang kayak Mas Adi mau jadi dosen tetap lho. Saya pikir cuma di Indonesia (baca: jakarta) gaji dosen biasa di UI lebih kecil daripada guru SD di jakarta. Bukan mengecilkan guru SD, tapi bukannya jadi dosen musti doktor dan baca jurnal terus? salam.